“Selamat datang di Kerajaan Odaiba. Laut biru dan tanah yang hijau. Ini adalah pusat dunia dengan kemakmuran seni bagaikan pelangi ♪. Orang-orang muda mempunyai cita-cita, orang pensiun beristirahat dan yang paling penting adalah keramahan tanpa melihat perbedaan ♪. Kami telah mendapat berkah melalui doa dari Gadis Dewa Matahari yang tidak berdosa ♪.” Suara nyanyian gadis itu meledak menjadi sorakan dari sejumlah besar orang yang berkumpul di alun-alun. 

 

Kerajaan Odaiba, ibukota Kerajaan Diva. Setiap setahun sekali kota ini mengadakan festival tahunan yang panas dan penuh sesak dengan penonton. “Penyanyi itu sangat anggun. Tetapi, mengapa ia berpakaian seperti ksatria?” “Oh, apakah ini pertama kalinya kamu di ibukota kerajaan? Anak itu adalah seorang ksatria suci.”Seorang wanita tua yang tinggal di kota itu menanggapi Solilokui seorang musafir yang sedang menonton di dekat gereja. “Dia adalah anak yang ramah. Jika waktu mengizinkan, dia akan menyanyikan lagu yang kamu minta.” “Eh? Mengapa sikapnya seperti orang yang biasa saja. Apakah para ksatria sering melakukan hal seperti itu……”

 

Tidak! Berbahaya, di atas, di atas! Tiba-tiba muncul teriakan yang keras, 2 orang melihat ke langit. Jauh di atas, lonceng gereja yang tergantung itu terjatuh ke arah 2 orang tersebut. Saat ketika semua orang putus asa. “Gemerlap Dewa Matahari, beri aku kekuatan!” Nyanyian yang tinggi. Gadis yang bernyanyi tadi bergegas masuk dengan gagah.

 

“Hah!” Sebuah lompatan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa. Berlari di udara bagai lintasan cahaya yang memanjang dari tumit. Gadis dengan pedang itu dengan mudah membelah bel menjadi dua. “Apakah kau terluka?” “Ia benar-benar seorang ksatria……” “Benar. Aku adalah Setsuna, kapten divisi pertama para ksatria! Ada apa?” 

 

“Tidak, tidak, Tidak ada apa-apa. Kamu menyelamatkanku. Terima kasih, Setsuna-sama” “Sebagai seorang ksatria ini adalah perbuatan yang wajar!” Setsuna, seorang gadis ksatria dengan mata yang berkobar-kobar dan berambut panjang, tersenyum dengan lebar.

 

Sebuah kuil besar yang bersinar di batuan kapur. Kamar gadis kuil putri yang berada di ujung koridor yang sejuk. Cahaya matahari bersinar merah terbenam dari jendela. Seekor burung yang masuk melalui jendela hinggap di bahu gadis kuil putri yang sedang duduk di tempat tidurnya. 

 

Burung itu dari sayap, paruh, dan semua bagian tubuhnya berwarna putih. “Permisi. Tuan putri! Kapten divisi pertama, Setsuna, telah kembali!” “Ih, Setsuna-chan, sudah kubilang kalau kita cuman lagi berdua, panggil aku Ayumu.” Ayumu, Ayumu! Kemudian, seekor burung yang berbicara itu membentangkan sayap putihnya dan terbang. “Hehe, Keduluan, deh. Ayumu-san, dia sudah terbiasa dengan manusia, ya.” “Iya, dia sering datang untuk bermain. Temanmu siapa saja?”

 

Setsuna juga adalah seorang paladin yang melayani gadis kuil putri. Ia telah bersama Ayumu sejak masih kecil, dan itulah yang menjadi hubungan persahabatan mereka satu sama lain. “Sepertinya di luar berisik, apa yang terjadi? Ceritakan, dong.” Ceritakan padaku sebuah cerita. Ini adalah kebiasaan Ayumu yang tidak pernah meninggalkan kuil. Gadis kuil putri adalah anak yang dicintai oleh Tuhan. Eksistensi yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Dia mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk berdoa kepada Dewa Matahari.

 

“Hee. Jadi begitu ya? Hebat, ya. Setsuna-chan benar-benar kuat.” “Ini adalah bentuk kedisiplinanku!….Itu yang aku ingin katakan, tetapi ini semua berkat Ayumu-san. Ini benar-benar suatu misteri, karena aku menggunakan DP untuk meningkatkan kekuatan fisikku.” DP adalah singkatan dari kekuatan “Daisuki.” Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki DP di tubuhnya. Ini adalah sumber vitalitas untuk kehidupan dan pada saat yang sama setiap orang dapat menggunakan kekuatan khusus. Meskipun ada perbedaan dari cara penggunaannya, tapi orang tidak mungkin hidup tanpa DP. “Untuk meluncurkan kembang api, untuk berbicara dengan boneka beruang. Festival ini pun tidak akan berjalan tanpa adanya DP!”

 

DP pulih saat terkena cahaya sinar matahari. Dikatakan bahwa kekuatan matahari hanya dapat diwujudkan dengan doa dari gadis kuil putri. “Berkat Ayumu-san, empat musim datang ke ibukota kerajaan dan cuaca yang selalu stabil dari langit cerah tanpa awan hingga hujan yang penuh berkat!” “Ih, Setsuna-chan mah. Oh iya, aku ingin pergi ke festival. Aku juga ingin sesekali melihat-lihat kota.” “Lalu, Kenapa kita tidak menyelinap saja sekarang?” “…..Eh? Ehhhhh!?” “Dulu, di buku bergambar yang kita baca bersama ada juga ya adegan seperti itu. Pelarian cinta antara pahlawan dan tuan putri!” “Hehe, Aku tahu kalau Setsuna-chan lebih menggunakan senjata legendaris yang digunakan pahlawan daripada cinta asmara.” “So-soalnya, apa ada ksatria yang tidak bisa mengagumi hal yang keren seperti itu!?”

 

“Hahaha, jadi kangen ya. Tetapi itu kan hanyalah dongeng, Kalau soal pelarian….. Jika aku pergi dari sini, nanti semua orang akan mendapat masalah.” “Tentu saja itu hanya bercanda. Ayo kita pergi dengan cara yang formal. Aku akan coba mendapatkan izin untuk pergi keluar dari Uskup.” “Eh?” “Hari ini adalah hari istimewa yang diadakan setahun sekali. Jika hanya sebentar saja, pasti dibolehkan. Aku akan menemanimu, Serahkan saja semuanya padaku!” Kata Setsuna sambil memukul dadanya. “Ta, tapi….., apakah akan baik-baik saja…..” Kedua tangan Ayumu lalu mengepal di dada sambil berpikir sesaat. Akhirnya, dia mengangkat wajahnya seolah dia telah memutuskan. “Benarkah… aku boleh untuk meminta izin?” “Tentu saja!… Oh?” Setsuna menggenggam kedua tangan Ayumu di telapak tangannya. Setelah itu, seorang wanita yang cukup tua datang ke kamar.

 

“Oh, Uskup Agung yang mulia, anda datang di waktu yang tepat! Apakah aku boleh membawa gadis kuil putri ke festival sekarang? “Diluar sangatlah berbahaya. Ini adalah tempat teraman untuk gadis kuil putri.” “Tetapi, izinkanlah sebentar gadis kuil putri untuk pergi keluar…. Ia selalu berada disini sejak Ia lahir, Setidaknya hari ini berikanlah dia izin.” “Apakah kamu tidak ingat ada kecelakaan bel jatuh tadi!?” Uskup Agung melanjutkan. Ini adalah pertanda kejahatan. Besok adalah hari yang penting, kita harus waspada dan aku ingin berbicara dengan gadis kuil putri soal upacara doa. “Tapi, Uskup Agung….!” “Su, sudah, kapten ksatria.” Penawaran dengan Uskup Agung pun tidak membuahkan hasil. 

 

“Baiklah. Aku akan segera datang.” Ayumu menenangkan Setsuna dan mengikuti Uskup Agung. Sesaat sebelum meninggalkan ruangan, Ayumu mengucapkan terima kasih dan tersenyum pada Setsuna. Itu adalah senyum sekilas yang membuat dada Setsuna terasa sakit. “Ayumu-san……” Gumaman Setsuna menggema di ruangan yang sunyi itu. Omong-omong, aku baru menyadari ada sesuatu yang hilang. Tidak terlihat burung putih itu dimana pun.  

 

Pada hari festival. Keriuhan senjata, ucapan selamat dimana-mana dan alat musik kuningan bergema di kota yang bersinar penuh warna itu. Tepuk tangan terus menerus dilakukan untuk drum marching dan kelompok yang meniup peluit. Banyak orang berdesakan menuju Kuil Agung. Penampilan Ayumu yang berdiri di atas altar membuat orang banyak menangis. Menundukkan kepala, menyembah dan menyembah. “……?”

 

Setsuna yang melihat situasi di garis depan tiba-tiba gemetar. Badannya tiba-tiba dingin menjalar ke seluruh tubuh, dan keringat terus menerus keluar. Ada kegemparan yang mengerikan akan datang. Tiba-tiba, suara gemuruh muncul. Kuil besar bergetar dengan suara menderu. Temboknya retak, langit-langitnya runtuh, kacanya pecah. Angin kencang bertiup. “Apa…!?” Aku tidak bisa langsung memahami situasinya. Teriakan, amarah dan kebingungan menyelimuti. Yang tercermin di mata Setsuna adalah…. “NAGA!?” Makhluk yang lebih besar dari kapal. Tubuh yang terbungkus sisik hitam legam. Sayap kuat, ekor yang panjang, taring tajam. Keberadaan yang seharusnya ada di buku bergambar saja atau mitos, menjadi nyata di depan mataku.

 

“Tidak!” “Tuan Putri?!” Naga itu memegang tubuh Ayumu dengan kaki depannya. Apakah Ayumu akan diculik!? Setsuna berlari sambil meneriakkan mantra. Berlari di udara dengan cahaya yang seolah-olah memanjat tangga yang tidak terlihat. Dengan seluruh tubuh bagaikan pegas, mengarahkan pedang ke arah otak naga, membentuk busur yang terbentang di langit, dan mengayunkan pedang ke arah bawah. Dengan segenap kekuatan! “Haaaaaa!!” Tidak ada perlawanan. Tidak ada tanggapan dari naga atas serangan itu. Rasa sakit yang tajam menusuk sekujur tubuh dari kedua telapak tangan yang memegang pedang tersebut, dan. Suara logam terdengar, ternyata pedang itu patah. “Se, rius….” Terlepas dari Setsuna, yang terpana oleh sisik yang kuat itu, naga itu mulai mengepakkan sayapnya dan pergi. “Setsuna-chan…!”

 

Ayumu meregangkan lengannya sekuat tenaga dan mencoba untuk kabur. “Ayumu-san…!” Saat Ayumu terlihat seperti terjatuh, Setsuna pun mengejar sang naga.” Garis pandang satu sama lain bersilangan, ujung jari yang akan saling menyentuh. Pada saat itu. Naga itu terbang dengan cepat sambil meraung. Tangannya seperti membelah langit. Di bawah tekanan angin, Setsuna terpeleset dari punggung naga itu dan terbanting ke tanah. “Ayumu-san…!” Tidak peduli seberapa banyak aku berteriak, aku sudah tidak bisa mendengar suara naga itu lagi. Ayumu dibawa pergi oleh naga itu. Hilangnya gadis kuil putri sama saja dengan hilangnya matahari. Ini ceroboh, sangatlah ceroboh. Rintik hujan yang dingin mulai menerpa pipi Setsuna. Dalam sekejap mata, awan gelap menutupi langit di atas kerajaan, dan ibu kota kerajaan mulai diselimuti dengan kegelapan.

 

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *