Ini adalah pagi Minggu yang cerah. Meski hari ini libur, aku tetap pergi ke sekolah. Bukan tanpa alasan. Di balik pintu kelas dua SMA Nijigasaki ini, dia akan menyambutku.

“Yahooo!”

Dia adalah Miyashita Ai, anggota Klub School Idol dan juga sahabatku. Walau tidak ada jadwal pelajaran tambahan, aku tetap datang karena ajakannya.

“Cowok yang punya ilmu sihir disebut?”

Dia tiba-tiba memberikan kata kunci, dan yang spontan di pikiranku adalah “dukun.”

“Bener, ahahaha!”

Entahlah, aku sendiri tidak paham maksudnya.

Tiga hari lalu aku menerima pesan dari Ai untuk datang ke kelas ini pada hari ini. Namun, dengan tujuan yang belum pasti.

“Maaf, ya, aku malah nyuruh kamu dateng pas hari libur gini. Sebenarnya, ini pertemuan rahasia kita, tahu.”

Dia mengangkat tiga jari sambil berkata demikian, mengacu pada kosakata “rahasia (himitsu)” dan angka tiga (mitsu).

“Sebenarnya, tujuan utamaku hari ini adalah acara ini.”

Dia bertepuk tangan dan mengeluarkan buklet tipis dari tasnya. Sepertinya itu adalah brosur.

“Aku pengen kamu nemenin aku pergi ke sini. Awalnya aku mau pergi bareng Kak Misato, tapi kayaknya dia tiba-tiba nggak bisa dateng karena sebuah urusan mendadak.”

Tempatnya adalah Odaiba Seaside Park. Dan nama acaranya adalah “Festival Hawaii,” sebuah acara yang mengangkat tema liburan di Hawaii dan sebuah bazar. Ai adalah seorang gal, aku bisa memahami kenapa dia ingin pergi ke tempat ini. Dan pergi seorang diri mungkin pilihan yang berat baginya, sehingga dia memanggilku untuk menemaninya.

Tidak ada alasan untukku menolak ajakannya. Lagi pula, aku suka berada di dekatnya.

“Oke, ayo berangkat! Going now, going now!”

Sambil melantunkan lagunya yang penuh semangat, kami meninggalkan kelas. Di tengah kemeriahan kami bernyanyi, tiba-tiba…

“Going now, going now!

Seperti sebuah paduan suara, ponsel Ai bergetar bersama dengan nada deringnya. Ketika Ai memeriksa layak ponselnya, senyumnya tiba-tiba menghilang.

“Kakak, ada apa? Eh, Kakak jadi bisa pergi hari ini?”

Aku bisa membayangkan siapa yang Ai telepon sekarang. Dia adalah Misato, sosok yang sudah dianggap sebagai kakak kandung oleh Ai. Tampaknya keperluan mendadak kakaknya mendadak batal sehingga dia bisa menemani Ai pergi ke Festival Hawaii.

Yah, aku bisa merasakan peranku di sini sudah berakhir. Tapi, Ai tampaknya tidak demikian.

“Eng, Kakak…. Sebenarnya gini….”

Sambil sesekali melirikku, Ai berbicara dengan Kak Misato melalui ponselnya. Seharusnya dia pergi dengan Kak Misato, jadi seharusnya aku tidak perlu menemaninya lagi.

Aku mengira dia akan senang jika Kak Misato bisa pergi, tetapi dia tidak terlihat seperti itu. Sebaliknya, dia terlihat malu-malu.

“Tentang itu, Kak. Aku kemarin ngajak dia buat pergi bareng, jadi sekarang aku nggak bisa pergi dengan Kakak. Hm? Apa? Kencan!?”

Nada suara Ai tiba-tiba meninggi diiringi wajahnya yang memerah.

“Bu-bu-bukan! Ih, ya udah. Sampai nanti!”

Dia memutuskan panggilan itu. Ternyata Ai berbohong kepada Kak Misato walau dia terlihat sangat sulit secara emosional.

Setelah itu, Ai duduk bersimpuh di tempat.

“Yah, aku pikir dia nggak bisa pergi karena dia membatalkannya kemarin. Aku nggak pernah nyangka ini bakal kejadian. Sip, kita lewatkan dulu Festival Hawaii ini. Tapi, sekarang kita mau ngapain?”

Meski rencana awal kami terpaksa dibatalkan, sepertinya Ai tidak memiliki rencana cadangan. Tapi, kenapa dia melakukan hal ini? Kenapa dia harus berbohong kepada Kak Misato?

“Eh, kamu nggak mau nemenin aku!?”

Bukan itu maksudku. Tapi aku hanya tidak bisa membaca alurnya.

“Astaga, aku nggak paham lagi seberapa nggak pekanya kamu itu. Serius!”

Meski dia berkata begitu, apa boleh buat.

“Oke, ayo kita pergi jalan-jalan aja! Bebas ke mana aja! Aku bakal nemann kamu dengan 1000 lelucon kataku!”

Wow, sekarang dia benar-benar memutuskannya secara acak. Terlebih, sangat tidak ada sangkut pautnya dengan rencana awal. Berbeda dengan sepuluh menit yang lalu ketika dia melompat-lompat dan memimpin, sekarang dia dengan tegas menarik lengan kananku.

“Eh, kamu yakin mau denger 1000 lelucon dariku?”

Jujur, aku ingin meminta hal lain seperti sebuah pelukan, tapi jika itu membuat Ai bahagia, maka tidak ada pilihan yang lebih sempurna dari itu. Dengan berkata demikian, Ai sekali lagi menunjukkan ekspresi yang rumit. Ini sangat berbeda dari dirinya yang biasanya sederhana dan jelas.

“Iya, deh. Walau aku sudah nggak mood lagi, ini yang pertama!”

Ai mengganti pegangan pada lenganku yang sedang ditariknya dan dengan cekatan berputar. Lalu dia memperbaiki posisi dengan kedua tangan dan menaikkan sudutnya. Tanpa sadar, lengan kananku telah terangkat hingga di depan wajah Ai.

Ketika aku fokus padanya, aku dapat melihat sosoknya yang agak merah.

Ai shiteru…. Ai dake ni.”

 

Wajahnya saat itu sangat cerah dan hangat seperti matahari. Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari mata berkilau Ai untuk sementara waktu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *