Sejak dulu aku selalu akrab dengan musik

Pertemuanku dengan anisong melahirkan perubahan

Membahas mengenai keterkaitanmu dengan musik sejak masih kecil. Apakah kamu masih ingat kapan mulai tertarik dengan musik?

Keluargaku suka musik, di dalam mobil yang sering diputar adalah Bonnie Pink dan Spitz. Aku sudah akrab dengan musik sejak lama, jadi kurasa aku tidak pernah benar-benar memilih untuk fokus pada itu.

Kamu sudah belajar piano sejak umur 3 tahun, ya. Apakah itu karena perintah orang tuamu yang menyukai musik?

Berdasarkan cerita ibuku, katanya aku sendiri yang mau karena tertarik saat sedang melihat-lihat kelas. Tapi karena ini waktu aku masih sangat kecil, jadi aku tidak terlalu ingat, hahaha. Selain piano, aku belajar bahasa Inggris, kelas modeling, dan lukisan minyak. Dulu orang tua dan kerabatku pernah memuji gambarku. Rasa “suka” dan “senang” itu jadi terhubung.

Berarti kamu senang belajar piano?

Tidak. Padahal aku sendiri yang mau belajar piano, tapi aku memilih berhenti karena tidak cocok denganku, hahaha. Sebab tanganku kecil, jadi tidak sampai kalau mau menekan oktafnya. Entah sampai menginjak umur berapa tahun, hal itu berpengaruh ke pertunjukan pianoku.

Semakin tinggi tingkat kesulitannya, semakin banyak oktaf lembaran musiknya, ya. Tapi, tanganmu kompleks dan indahnya. 

Aku senang mendengarnya! Terima kasih! Tanganku mirip dengan ibuku. Tapi, sebenarnya jari kelingkingku ini bengkok. Ini bawaan dari gen nenekku. Saat aku ingin menggapai oktaf, jariku jadi terasa sakit. Itu juga jadi salah satu alasan aku ingin berhenti, makanya aku bilang ke orang tuaku jika aku tetap melanjutkannya maka ini tidak akan jadi kelebihanku dan berhenti di akhir masa SD. Hal lain yang aku pelajari juga hampir semua kuhentikan ketika hendak bersiap untuk ujian masuk SMA, tapi semua yang aku pelajari di masa itu terhubung dengan diriku sekarang. 

Kamu sudah akrab dengan musik dan seni. Benar-benar lingkungan yang bagus, ya.

Benar. Banyak yang terkejut mengetahui ini, tapi pergi ke karaoke adalah rutinitas keluargaku, hahaha. Aku malah lebih sering ke karaoke dengan keluarga daripada dengan teman-teman.

Apakah kamu masih ingat lagu pertama yang kamu hafal?

Kurasa lagu “Sora mo Toberu Hazu” milik Spitz. Aku menyanyikannya dari mendengarnya. Aku terus mendengarkannya saat di dalam mobil, sampai-sampai aku melarang orang lain bernyanyi, hahaha. Kayak nyuruh mereka “Stop, aku mau nyanyi”, gitu.

Benarkah, hahaha. Kalau begitu, CD apa yang pertama kali kamu beli?

Waktu kelas 1 atau 2 SD, aku beli CD grup idol laki-laki dengan uang tahun baru. Itu karena pengaruh dari kakak perempuanku.

Katanya kamu mulai tertarik dengan profesi sebagai seiyuu sejak kelas 2 SMP setelah melihat penayangan ulang anime “Kobato”. Kamu juga mulanya mendengarkan anisong sejak saat itu, ya?

Benar. Waktu aku kelas 1 atau 2 SMP, aku jadi sering dengar anisong karena pengaruh dari temanku yang suka dengan anime. Sebelum itu, aku lebih sering terpengaruh oleh kakak perempuanku. Aku sangat akrab dengan kakak perempuanku, sebab kami bisa memahami satu sama lain. Tapi suatu hari, kerabatku pernah bilang kalau aku terlalu terpengaruh oleh kakak perempuanku, itu membuatku sangat kesal. Padahal aku sendiri memang menyukainya. Kala itu aku bertemu dengan sahabatku yang menyukai anime. Kakakku mendengarkan lagu yang terkenal, tapi tidak mendengarkan anisong. Waktu pertama kali mendengarkan anisong, aku seolah bertemu dengan musik yang “aku banget”.

Lagu seperti apa yang kamu dengarkan?

Lagu-lagu dari Konomi Suzuki, LiSA, Claris, dll. Terus, aku juga punya teman yang suka vocaloid, berkatnya aku jadi mendengarkan anisong dan vocaloid di masa-masa yang sama.

Sosok temanmu sangat berdampak besar padamu, ya.

Menurutku begitu. Tapi, ada juga masa-masa dimana aku menolak pengaruh dari lingkunganku. Di masa-masa aku mencari jati diriku, aku akan menerima pengaruh yang baik diterima olehku. Kayak bias gitu, deh, hahaha. Itu benar-benar masa transisiku.

Bagaimana dengan masa SMA?

Aku bergabung dengan Klub Musik Ringan, dan membuat band yang mengcover anisong dan vocaloid. Posisiku sebagai keyboard vokal.

Itu band yang seperti apa?

Sederhananya, sebuah band yang terbilang hard. Semua anggotanya suka musik, kami menyanyikan lagu yang kami suka, mengadakan konser, dan menikmatinya. Salah satu anggota bandnya jago nyanyi, sehingga aku sering minta saran darinya. Menelusuri tentang musik bersama, dan kadang bicara layaknya maniak, hahaha. Aku rasa kemampuan bernyanyiku diasah disana. Aku juga pertama kali konser dengan band itu.

Selain karena memang itulah karaktermu, kamu juga diberkahi lingkungan yang bagus, ya.

Benar! Aku bertemu banyak orang yang belum pernah kutemui di masa SMA. Aku juga jadi sering pergi ke konser. Bahkan, aku sangat berterimakasih karena sekarang aku bisa menerapkan semua pengalamanku kala itu.

Omong-omong, apakah band itu hanya mengcover lagu?

Kalau cuma mengcover akan membosankan, kami juga pernah membahas untuk membuat lagu. Lantas kami mencoba membuat satu lagu, tapi tidak dilanjutkan, hahaha. Itulah kali pertamaku membuat sebuah lagu. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi membuat lagu. Aku kembali menulis lirik dan komposisi lagu baru akhir-akhir ini. 

Ini pertanyaan sederhana… apakah membuat lagu itu pasti langsung bisa?

Bagaimana, ya… Hahaha. Lagu “Nagame no Sora” yang ada di EP “Hamidashimono” adalah lagu pertama yang lirik dan komposisinya aku coba buat sendiri. Waktu SMA, aku pernah tidak sengaja melihat konser gratis Sayuri-san, disana aku sadar bahwa lirik itu merupakan hal yang penting. Sejak saat itu ketertarikanku pada “kata” meningkat, sehingga aku lebih mendalami banyak lirik lagu dari berbagai penyanyi. Dengan memperhatikan baik-baik susunan katanya, maka liriknya akan terasa hidup.

Akhirnya aku menemukan “jati diri”

Kemudian memulai debutku sebagai artis

Tahun 2016, kamu mendapatkan hadiah khusus dari audisi yang diselenggarakan oleh agensimu sekarang. Dan tahun 2017 kamu memulai debut sebagai seiyuu. Bersamaan dengan debutmu, kamu tampil dalam konser sebulan sekali, ya.

Pelatih vokalku adalah penyelenggara “maruxenon Live”, tempat untuk para murid latihan secara langsung, jadi aku tampil di sana sebulan sekali. Konser pertama Kusunoki Tomori juga adalah di event ini. Sederhananya, format acara ini adalah akustik, dan aku belum pernah akustik sebelumnya, makanya ini jadi pengalaman baru bagiku. Ditambah, kebetulan saat itu aku ingin mencoba akustik sebab lagi baru-barunya ketagihan sama Sayuri-san, tepat di hadapanku kesempatan itu muncul, hahaha! Lebih terasa sebagai keinginan pribadiku daripada sebuah pekerjaan.

Konser sebulan sekali itu benar-benar pengalaman yang berharga, ya.

Aku benar-benar berterima kasih pada masa-masa itu. Sekarang juga masih, tapi waktu itu masih belum sempurna. Tapi, guru dan penonton yang datang selalu memperhatikanku dengan penuh kehangatan. Makanya aku dapat tampil dengan seluruh kemampuanku.

Setelah itu kamu sering tampil di konser serial dan konser ulang tahunmu. Bagimu, konser itu tempat yang seperti apa?

Kalau konser serial (Nijigasaki, Revue, etc) benar-benar berbeda dengan konser pribadiku. Kalau konser serial, aku harus tampil sebagai sebuah karakter fiktif, sehingga aku harus membuat suasananya tidak terasa asing. Kalau konser pribadiku, lebih berat. Aku ingin menjadikannya tempat yang bisa didatangi orang tanpa ragu. Sebab konser itu sesekali, jadi tidak boleh ada yang sama. Walau hanya momen-momen singkat, tapi aku selalu ingin membuat konser yang selalu membekas di hati orang-orang. Walau kesannya berat, tapi aku ingin menjadikannya terasa bermakna.

Kemudian, “Hamidashimono” menjadi lagu tema untuk anime “Maou Gakuin” yang kamu ikuti sebagai seiyuu, sekaligus debutmu sebagai artis! Bagaimana perasaanmu? 

Rasanya tidak bisa dipercaya, hahaha. Ini salah satu mimpiku, jadi sudah pasti aku ingin mewujudkannya. Tapi, rasanya tidak ada hype-nya dalam kondisi seperti itu. Dalam arti baik, aku tidak terlalu kecewa. Debut di anisong yang sudah lama aku gemari, membuatku ingin menciptakan banyak lagu yang bagus tanpa terperangkap dalam satu genre saja. Aku ingin menyampaikan pesan yang hanya bisa disampaikan olehku. Kemudian, aku ingin menjadi penyanyi yang dapat menggerakkan hati seseorang.

One thought on “Interview Kusunoki Tomori | Seiyuu Grandprix No. 8 2020”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *