Alasanku menjadi seiyuu adalah karena pengalaman kegagalanku di band

Apa yang membuatmu terpaku pada profesi menjadi seiyuu?

Penyebabnya adalah band yang aku bentuk saat di bangku SMA. Aku adalah vokalis dalam band tersebut, namun penampilan pertama kami benar-benar buruk. Aku benar-benar kesal akan hal itu, kami sudah latihan setengah mati, setiap latihan kami benar-benar aku nikmati, dan aku pun sadar betapa menyenangkannya tampil di hadapan orang banyak. Terus, saat aku meratapi bahwa tidak ada jalan di mana orang-orang akan melihat apa yang aku perjuangkan, aku menemukan sebuah shojo manga berjudul “Seiyuuka!”, dan untuk pertama kalinya aku tahu bahwa ada pekerjaan seperti seiyuu. Ditambah, kupikir jika jadi seiyuu kita bisa juga jadi polisi atau penjaga toko bunga, jadi aku bisa menikmati hidupku berkali-kali lipat lagi. Makanya aku putuskan untuk menjadi seiyuu.

Lantas, kamu langsung bergabung dengan agensi tepat saat lulus SMA?

Saat lulus SMA, aku bekerja paruh waktu selama satu tahun di toko donat mengumpulkan uang untuk pergi ke Tokyo. Saat uangnya sudah terkumpul, aku masih belum menentukan mau ke agensi mana, tapi pokoknya gas ke Tokyo dulu. Di Tokyo aku kerja paruh waktu di toko donat lagi, dan kebetulan seniorku yang merupakan mantan siswa sekolah pelatihan seiyuu memberitahuku mengenai audisi yang namanya “Voice Actor Artist Training Program Selection”. Jadi aku coba ikut audisinya, beruntungnya aku lolos dan bergabung dengan Amuse, agensiku sampai sekarang. 

Apa seri yang menjadi debutmu?

“100% Pascal-sensei”. Aku ikut rekaman tiap minggu dan mencoba memerankan banyak peran. Yang pertama kali aku perankan seingatku adalah karakter kayak pemuda B. Sebab ini adalah anime komedi, bagian sulitnya adalah aku harus mengatakan kalimat penuh semangat yang melebihi ekspektasi. Kemudian hampir di waktu yang sama, aku juga tampil di drama luar negeri yang berjudul “Sleepy Hollow”. Di sana aku memerankan putri dari Diana Thomas yang diisi oleh Kaida Yuuko yang bernama Molly. Aku lumayan gugup, tapi Kaida Yuuko-san dan Miki Shinichiro-san mengajariku banyak hal dengan baik, makanya aku dapat melaluinya. Tampil di dua seri yang benar-benar berbeda benar-benar merupakan pengalaman yang bagus, aku jadi dapat belajar banyak hal.

Setelah melalui berbagai pengalaman, akhirnya kamu tampil di “Tamayomi” menjadi Takeda Yomi sebagai pemeran utama!

Aku menangis saking senangnya saat mendengar kabar itu dari manajerku, kemudian kami pergi ke conveyor belt sushi untuk merayakannya. Kemudian selama seminggu aku senyum-senyum sendiri terus, hahaha.

Bagaimana rasanya pengalaman “chairman” pertamamu?

Karena ini pengalaman pertamaku, tidak ada hal khusus yang benar-benar aku perhatikan. Castnya kebanyakan seumuran denganku, kurasa teamwork-nya benar-benar terasa di sini, tapi mungkin kisah Yomi menikmati permainan baseball yang lebih kental. Kalau memang ada yang harus aku perhatikan, nantinya aku tidak bisa akting dengan bebas dan menyenangkan. 

Bagaimana rasanya setelah memerankannya selama satu musim?

Melewati berbagai episode di tempat rekaman membuatku nyaman serasa jadi anak SMA lagi. Makanya satu musim benar-benar terasa begitu cepat… Aku merasa ada sebuah ikatan dengan teman-teman yang jadi rekan main di seri ini saat bertemu mereka di tempat rekaman lain. Bakalan mantap kalau bisa reuni dengan mereka di “Tamayomi” musim kedua.

Yang terakhir, apa impianmu kedepannya?

Impian besarku, yaitu tampil di anime nasional yang akan berjalan 10 tahun lebih! Kalau impian rahasiaku… membeli sebuah villa, hahaha. Kemudian membuat ruangan kedap suara, dan menjadikannya tempat latihan dan istirahat untuk teman-temanku yang sesama seiyuu. Impianku yang ini lumayan besar, ya, hahahaha.

One thought on “Interview Maeda Kaori | VOICE CHANNEL No. 12 2020”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *