Hari yang biasa di SMA Nijigasaki, seperti biasa pula, aku tetap bersinar dengan keimutan tiada duanya. Dan kali ini juga, aku ingin makan siang dengan koppe pan yang sudah aku siapkan dari rumah tadi pagi.

Di taman sekolah ini, kebetulan ada Kak Ai yang juga ingin menyantap makan siangnya.

“Aku sudah nggak bisa bayangin Kak Ai bawa makanan lain sih, tapi yang bener aja, Kak Ai bawa asinan lagi?” tanyaku dengan nada bosan.

Kak Ai adalah salah satu sainganku di Klub School Idol. Dia cerdas, energik, dan sangat manis. Akan tetapi, hal yang benar-benar tidak bisa dipercaya dari sosok seperti dirinya adalah selera humornya yang rendah dan kecintaannya pada asinan sayur seperti nukazuke.

“Yang bener nukazuke! Kasukasu, kamu juga mau nyobain?” balasnya menimpali pertanyaanku.

“Kasumin!” sanggahku seketika mendengar panggilan yang remeh itu.

Aku tidak suka dipanggil “Kasukasu” karena terdengar seperti ejekan. Ditambah, nama panggilan itu tidak ada imut-imutnya. Lagi pula, kenapa Kak Ai tidak mau memanggil nama kecilku yang jauh lebih manis?

“Lagian, aku sekarang lagi makan koppe pan…”

Aku lebih suka makan secukupnya di siang hari. Semua orang juga tahu, jika perempuan lebih mudah naik berat badannya di kala dia lengah. Guna menghindari hal itu, aku selalu mengatur porsi makanku agar tetap tampil terbaik sebagai School Idol yang imut.

“Satu aja,” ujarnya sampil menyodorkan sepotong nikazuke timun dengan sumpitnya.

Hap.

“Gimana? Pasti enak? Buatan nenekku ini.”

Aku benci mengakuinya, tapi ini benar-benar enak. Dan sekarang, aku malah jadi ingin makan nasi.

Aku menyampaikan pendapat jujur itu, namun seperti biasa, dia selalu menanggapinya dengan sebuah lawakan garing. Rasanya sia-sia cita rasa yang sangat khas ini karena humornya yang terjun bebas itu.

“Kakak kudu minta maaf sama nenek Kakak karena udah bikin rasa nukazuke itu jadi hambar gara-gara lawakan Kakak.”

“Mulutmu kering banget, deh. Lagian kamu sendiri juga, makan koppe pan lagi? Mending kamu makan nasi juga deh buat makan siang?”

Sudah kubilang, bukannya aku tidak mau makan nasi. Tapi, aku berbeda dengan orang sepertimu yang bisa mempunyai tubuh menyaingi model hanya dengan keberuntungan.

“Aku nggak pengen denger itu dari Kakak!”

“Eh, aku makan nasi, loh?”

“Bukan gitu… Hah, udah, deh. Aku suka koppe pan, buatnya asik, makannya juga enak. Pokoknya cocok banget sama perawakanku yang imut ini~”

Kak Ai memalingkan wajah dan kembali mengambil nukazuke dari kotak bekalnya.

Sambil mengunyah, dia membalas.

“Berarti sama aja kan kayak nukazuke?”

“Nggak salah, sih…”

“Kasumin, lain kali kita bikin bareng-bareng, yuk!”

“Iya, iya, deh…”

 

Begitulah bagaimana aku tidak berhasil memahami kenapa dia harus makan nukazuke. Setidaknya, kali ini dia memanggilku dengan nama yang benar.

“Huhu!”

Hari ini, suasana hatiku sedang terbang bebas. Itu karena, aku baru sama membeli cermin saku baru yang sudah lama aku inginkan.

Bentuknya yang praktis dan estetik, sangat mencerminkan penampilanku.

Aku ingin memperlihatkannya ke Kak Yuu, jadi aku pergi ke ruang klub.

Namun tak disangka, yang ternyata ada di sana adalah Kak Kanata yang sepertinya baru saja sampai beberapa saat sebelum aku.

“Kak Kanata~” sapaku dengan penuh keceriaan.

Kak Kanata berbalik dan mendapati melompat-lompat pelan ke arahnya.

“Kenapa, tuh~? Kayaknya kamu seneng banget? Pasti ada hal bagus, ini,” tanggap Kak Kanata.

Tidak heran jika julukan ‘Kakak’ dipegang olehnya, instingnya sebagai seorang kakak sangat mengagumkan.

“Ehehe, Kak Kanata tau aja. Tau nggak, Kak? Aku baru beli cermin saku baru! Liat, deh!”

Aku menunjukkan cermin saku berwarna kuning dengan ornamen butiran berlian yang di punggungnya.

“Wow, lucu banget. Kakak tau sih kamu sering liatin muka pake cermin saku, tapi buat apa sebenernya? Takut ada jerawat?”

“Iya, dong~ Buat liat ada jerawat apa engg– bukan gitu! Aku emang nggak mau ada jerawat, tapi bukan buat itu, Kak! Kalo liat muka aku yang seimut ini, gatau kenapa bikin senyum-senyum sendiri.”

Seketika aku ingin menarik pujianku barusan. Tapi, aku sendiri paham bahwa ucapannya tadi adalah caranya untuk dekat dengan juniornya. Selain itu, aku rasa jarang ada jerawat yang tumbuh karena aku selalu perawatan wajah di rumah.

“Oh~ Gitu, ya~” balas Kak Kanata sambil merebahkan pinggangnya di sofa.

“Kamu orangnya gitu, ya. Selalu berusaha dan pede banget. Kakak jadi ngerasa harus belajar dari kamu,” lanjutnya.

“Imut aku natural loh, Kak~” keluhku.

“Hihi, itu baru ekspresi yang imut. Oh, kebetulan Kakak juga baru aja nyuci bantal. Keliatan kayak baru beli.”

Kak Kanata menunjukkan bantal ungu dengan garis putih tebal yang selalu dipakainya untuk tidur kapan pun dan di mana pun itu.

Memang benar, bantal itu jadi lebih bagus dibanding biasanya, meski biasanya bantal itu memang sudah bersih.

“Kayaknya empuk banget.”

“Aku nyucinya sepenuh hati. Kamu mau cobain, nggak?”

“Eh, yang bener? Mau dong, Kak. Sekalian aku nilai kenyamanannya.”

“Silakan.”

Aku menyandarkan kepalaku pada bantal Kak Kanata yang diletakkannya di pahanya.

Sungguh, ini benar-benar nyaman. Wangi bantal dan sampo Kak Kanata yang menyatu, memberi kesan seakan dalam pelukan.

“Boleh juga… Pantes aja Kak Kanata sering… ketiduran…”

Tanpa sadar aku terlelap dalam nyamannya bantal Kak Kanata.

 

Mungkin untuk lebih detailnya bisa aku ceritakan lain kali, sebab sepertinya Kak Kanata lebih tahu apa yang terjadi setelahnya sampai aku bangun.

Memang tidak sering, tapi terkadang aku membantu Shioko di ruang OSIS.

Nama panggilannya Shioko, aku yang memberikan nama panggilan itu. Nama lengkapnya adalah Mifune Shioriko. Dia adalah ketua OSIS baru setelah Kak Setsuna. Meski agak kikuk, tapi dia bisa diandalkan.

Dan sekarang, aku yang imut ini, sedang membantunya di ruang OSIS.

Untuk memecah keheningan, aku bertanya padanya.

“Shioko, kamu sering nggak pergi-pergi ke luar begitu?”

“Hm, aku seringnya ikut kegiatan bersih-bersih dan relawan di rumah kanak-kanak.”

“Ah, kamu suka banget ya sama kegiatan relawan kayak begitu.”

Ketua OSIS kami ini, meski orang yang kikuk, tapi bukan orang yang kasar.

Sebaliknya, dia malah jauh lebih ramah dan penyayang dari penampilan dan cara bicaranya yang agak terlalu sopan.

“Seru, loh. Bisa main sama anak-anak, bersihin kota juga nggak seburuk bayangannya.”

“Eh? Masak?” ucapku sambil terbelalak.

Bukan artinya aku tidak suka kegiatan relawan atau semacamnya, tapi aku terlalu sibuk pada diriku sendiri. Jadi, aku menyerahkan tugas yang sangat mulia itu pada mereka yang lebih peka.

Tapi, aku tak pernah menyangka bahwa akan ada ungkapan ‘seru’ dari kegiatan semacam itu yang keluar dari mulut Shioko.

“Ngeliat senyum anak-anak itu bikin hati jadi sejuk, kalo ngeliat kota jadi bersih, siapa aja termasuk aku pasti bakal seneng, kan?” ungkap Shioko dengan senyum kecil di bibirnya.

Sambil memilah-pilih dokumen, aku membalas.

“Bener juga sih, apalagi kalo anak kecilnya seimut aku. Kota kalo bersih juga pasti lebih enak, kan.”

“Aku nggak nyangka kamu juga sependapat denganku.”

“Maksud? Gini-gini aku juga suka kebersihan, loh?”

“Maaf, aku cuma bercanda.”

Ungkapan tidak sopan barusan ternyata hanya sebuah candaan. Tapi, aku bahkan tidak pernah menyangka jika Shioko juga punya selera humor.

“Kalo Kasumi, sukanya pergi ke mana?” ucap Shioko balik bertanya.

“Aku sukanya ke mall! Keliling mall aja bikin aku bisa ngerasa jadi yang paling imut! Di kaca-kaca display toko juga bisa ngeliat aku yang imut ini~” ujarku dengan bangga.

Mendengar itu, Shioko hanya tertawa kecil sambil berkata, “Aku harus belajar banyak dari rasa pede itu darimu.”

“Nggak harus aku juga, sih. Sebab kamu nggak bakal sanggup, paling nggak kamu bisa niruin aku sebanyak yang kamu bisa.”

 

“Huhu, baik.”

Kalau aku tidak salah ingat, waktu itu adalah akhir musim dingin. Odaiba yang berada di teluk Tokyo, memang tidak mengalami penurunan suhu yang drastis seperti bagian utara Jepang, namun tetap terasa dingin menusuk di sekujur tubuh.

Saat latihan di luas, padahal aku sudah pakai pakaian yang cukup hangat, namun aku masih merasa suhu dingin datang dan memelukku erat-erat.

“Uh, dingin banget, sih. Aku ingin cepetan anget, sih…” keluhku.

Kak Emma yang kebetulan berada di sampingku, mengiyakan keluhanku. Aku tidak paham bagaimana iklim di Swiss, tapi sepertinya ini termasuk dingin baginya.

“Kalo aku nggak sabar buat liat bunga sakura. Mereka cakep banget,” ujarnya.

“Wah, aku juga suka itu. Omong-omong, Kak Emma nyiapin outfit yang kayak bagaimana buat liat sakura?” balasku bertanya.

Wajah Kak Emma agak kebingungan saat memikirkan pakaian seperti apa yang mau dipakainya.

Memang benar tidak ada aturan yang mengharuskan orang-orang memakai pakaian tertentu untuk melihat bunga sakura, namun ini jadi ajang tertentu untuk sekedar menyesuaikan dengan musim bunga sakura yang hanya muncul seminggu dalam setahun.

“Aku kepengennya pakai baju warna merah muda. Tapi, aku ragu bakal cocok apa nggak.”

“Kalo Kakak ragu malah bikin outfitnya nggak cocok, tauk. Kalo orang yang imut kayak aku, bukan milih baju yang cocok sama aku, tapi bajunya yang milih aku~”

“Huhu, kok bisa~!”

“Serius, loh!”

Kak Emma tertawa cekikikan mendengar ungkapanku.

Untuk diriku yang imut tiada dua ini, sudah sewajarnya pakaian apa saja akan cocok denganku. Malah, para pakaian itu yang memintaku untuk memakainya. Ya ampun, jadi imut itu sulit juga.

“Lain kali coba Kak Emma lebih pede lagi milih bajunya!”

“Iya, deh. Entar aku cobain. Eh, kalo Kasumi mau pakai outfit kayak gimana buat musim semi nanti?”

“Hihi, aku udah nunggu pertanyaan itu.”

Sebenarnya, aku memperkirakan pertanyaan ini akan muncul sejak pertama kali bertanya pada Kak Emma. Jadi, aku sudah mempersiapkan jawaban yang matang di dalam kepalaku.

“Tahun ini, aku mau coba pake outfit yang lebih bebas!”

“Maksudnya?”

“Aku mau coba outfit yang agak tomboy, kasual, pake gaun putih juga boleh… pokoknya aku mau nyobain macam-macam outfit buat tahun ini!”

Kak Emma tertawa kecil ketika mendengar jawabanku.

Latihan di tengah musim panas. Memang agak melelahkan, tapi aku masih sanggup melakukannya. Melakukan tarian dan gerakan yang intens, memutar tubuh dan melompat, berpose imut, sampai berhenti di tengah panggung.

Semua ini kulakuka agar suatu saat bisa tampil sebagai School Idol. Meski begitu, jalanku masih sangat panjang.

Sementara orang yang berada di sampingku, senior sekaligus orang yang sangat kuhormati, Kak Setsuna, masih melakukan tarian-tarian yang terlihat berat.

“Kak Setsuna, istirahat dulu, yuuuk~” ajakku.

Aku yang kelelahan, langsung mengambil posisi duduk dengan kaki memanjang agar tak terjadi cedera.

Mendegar itu, Kak Setsuna setuju dan duduk di sebelahku sambil memanjangkan kakinya.

“Kerja bagus, Kasumi. Kamu makin jago dibanding sebelumnya, ya.”

“Hehe, udah pasti, dong!”

Kurasa hidungku akan memanjang jika terus membanggakan diri seperti ini.

Aku meraih botol air mineralku dan meneguknya beberapa kali untuk menghilangkan dahaga setelah berlatih.

Di samping itu, Kak Setsuna yang merupakan ketua OSIS SMA Nijigasaki ini, memutar-mutar sesuatu di smartphone miliknya sambil melihat-lihat sesuatu.

Dia punya ketertarikan terhadap anime dan game. Memang agak di luar bayanganku, tapi itu cukup menarik karena penggambaran dirinya yang merupakan ketua OSIS jadi sangat jomplang dengan hobinya.

“Kak Setsuna, kalo lagi libur, Kak Setsuna seringnya ngapain? Nggak cuma nonton anime sama main game, kan?” tanyaku seraya menutup botol air mineral.

“Pastinya. Kalo libur, aku sering nonton pertunjukan School Idol sekolah lain, loh.”

Wah, itu jawaban yang agak di luar perkiraanku.

Aku pribadi tidak terlalu sering melihat penampilan School Idol di saat liburku.

“Wow, aku nggak nyangka. Kakak memata-matai mereka, ya? Huhuhu,” sindirku.

“Nggak, kok. Sekedar pengen liat mereka sebagai seorang fans. Sebab sumber kekuatanku adalah School Idol itu sendiri!”

“Eh, nanti nonton konser aku juga, dong!” timpalku sambil menyodorkan tubuh ke arah Kak Setsuna.

“Pasti, dong!” balas Kak Setsuna sambil menyodorkan tubuhnya juga ke arahku, namun lebih agresif.

“Omong-omong, kalo Kasumi, pas libur biasanya ngapain?”

“Eh, eng… Kalo aku biasanya pergi berbelanja.”

Matanya berbinar sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.

“Keliling toko itu seru banget, ya!”

“Bener, sekalian ngubah mood, jalan-jalan pake baju imut juga asik.”

“Kalo nemu merch yang belum pernah kita liat, rasanya jadi bersemangat, kan!”

“Bener! Kalo ada aksesoris lucu gitu malah bikin seneng, tauk!”

 

Entah bagaimana, obrolanku dengan Kak Setsuna tentang topik ini cukup sejalan.

Berdandan adalah cara hidup yang harus dikuasai oleh setiap gadis, termasuk aku.

Jika dipikir-pikir, aku sudah belajar merias wajah sejak di bangku SMP. Jadi, merias wajah bisa dikatakan keahlianku.

Tapi kali ini, aku minta diajari oleh Kak Karin.

“Kayak gini, Kak?” tanyaku sambil meratakan foundation.

“Yup, kamu jago juga, Kasumi,” puji Kak Karin.

Kak Karin menata rambut pendekku.

Biasanya memang sudah sempurna, tapi jika Kak Karin yang melakukannya, rasanya jauh lebih sempurna.

Aku menutup mata karena Kak karin akan memberikan eyeshadow di kelopak dan sisi mataku.

“Nggak usah tegang begitu, Kasumi.”

“E-enggak, kok!”

Biasanya aku sendiri yang merias wajahku, tapi karena ini pertama kalinya aku didandani oleh Kak Karin, mungkin aku memang merasa agak gugup.

“Kasumi itu pakai make-up standar aja sebenernya udah imut, tapi kayaknya make-up dewasa juga cocok.”

“Ehehe, mau dipuji seberapa banyak pun, nggak bakal muncul apa-apa tau, Kak.”

Olesan lembut itu terasa sangat telaten.

Ketika aku membuka mata, sosok gadis yang terlihat dewasa terpantul di cermin di atas meja.

“Wah, agak kaget juga ngeliat diri sendiri jadi agak dewasa gini, Kak,” ungkapku sambil menggeleng kiri kanan melihat hasil riasan wajahku.

“Lebih dari ini, entar malah nggak cocok sama kamu.”

“Ehehe, makasih, Kak Karin~ Lain kali aku mau coba sendiri di rumah!”

Kak Karin memberikan beberapa saran make-up yang bagus. Di samping karena dia seorang model sehingga tahu banyak soal make-up, selera dan riasan wajah Kak Karin menurutku selalu terkesan mewah dan berkelas.

“Kak Karin, kapan-kapan temenin aku beli make-up, dong!”

 

“Huhu, boleh. Kapan aja kamu mau.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *