Di antara jeda pelajaran siang, ada waktu istirahat selama 10 menit. Di SMA Nijigasaki, yang memiliki banyak jurusan, waktu ini umumnya digunakan untuk berpindah antar ruangan. Dan sekarang, saat itulah waktu istirahat, waktu untuk berpindah ruangan.

Aku memegang selembar kertas. Kertas yang lebih kecil dari buku catatan itu berisi pesan. Yang sedari tadi aku pegang.

“Sore ini dateng ke dekat stasiun, ya? Aku pengen ngajak kamu ke sebuah tempat istimewa. Setsuna.”

Meskipun ditulis dengan pena, aku merasakan semangat khas dari kata-kata itu. Bayang-bayang itu sangat melekat pada dirinya yang selalu dipenuhi dengan rasa cinta.

Aku memutuskan untuk menerima undangan hangat dari gadis yang menyembunyikan identitasnya itu. Gadis yang merupakan School Idol bernama Yuki Setsuna. Dan di saat yang sama, dia adalah gadis yang menyembunyikan identitasnya sebagai ketua OSIS, Nakagawa Nana. Akhirnya, aku tidak punya pilihan selain pergi, dan mungkin itu membuatku sangat bahagia.

Di sore yang agak ramai di depan stasiun, aku menemukan Setsuna. Meskipun tubuhnya kecil, gaya rambut yang selalu dia kenakan membuatnya lebih mencolok dari orang kebanyakan. Seragam musim panas itu membuatnya lebih manis jika aku pandang dalam-dalam.

“Hei! Aku di sini!”

Ketika dia melihatku, dia melompat-lompat dan menunjukkan keberadaannya.

“Aku udah nunggu kamu! Ayo pergi liat bintang hari ini!”

Matanya bersinar begitu terang hingga sepertinya ada bintang-bintang malam di dalamnya. Dia telah memanggilku ke stasiun, jadi mungkin ini akan menjadi perjalanan jauh.

“Tenang aja! Kita cuma harus naik sedikit ke atas gunung!”

Benarkah itu hanya “sedikit”? Setsuna kadang-kadang melakukan hal-hal yang luar biasa. Dia mungkin memiliki kebiasaan buruk berupa tidak bisa membedakan sedikit berdasarkan skalanya dengan orang lain.

“Kita bakalan naik kereta sebentar dan mendaki gunung. Aku yakin kita bakal sampai di sana tepat waktu! Jadi, ayo pergi sekarang!”

Ketika sudah seperti ini, tampaknya tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Dan aku tidak bisa menolaknya. Mumpung Setsuna telah mengundangku. Tidak ada alasan untuk tidak pergi.

“Baiklah! Ayo berangkat! Ei, ei, oh!”

Mengapa “Ei, ei, oh!” ya?

“Jangan pedulikan hal-hal sepele!”

Kalau begitu, sudahlah. Aku mengeluarkan kartu kereta dan mengikuti Setsuna yang melewati pintu keluar. Aku bisa melihat betapa dia begitu bersemangat. Perawakannya yang tidak lebih tinggi dari anak seusianya, membuatnya sangat manis ketika dia berjalan di depanku.

“Kamu juga bersemangat? Ini kayak di komik remaja, bukan?”

Aku mengobrol dengan Setsuna yang tampak begitu bahagia selama perjalanan. Bahkan ketika kami sudah duduk, dia tetap tidak bisa diam, selalu menggerak-gerakkan kakinya dan berbicara.

Dengan Setsuna di sampingku, aku merasa ikut senang tanpa sadar. Aku merasa seperti melihatnya sepanjang perjalanan menuju stasiun tujuan.

“Matahari terbenamnya keliatan indah banget, bukan?”

Ketika kami turun dari kereta dan melewati pintu keluar, yang pertama terlihat adalah gunung-gunung yang tersemat warna oranye yang lembut. Musim panas masih terasa sangat kuat, dan itu terlihat jelas pada Setsuna.

“Saat malam tiba, sudut pandang yang kita liat secara alami akan berubah.”

Setsuna terus berbicara dengan semangat. Aku mulai sedikit khawatir apakah dia akan baik-baik saja dengan semangat yang tidak pernah turun bahkan sejengkal tangan sekalipun itu.

Tapi aku tidak terbiasa mendaki gunung, dan meskipun jalannya cenderung landai, tubuh muda dari perkotaan yang tidak terbiasa dengan perjalanan seperti ini mulai merasa letih.

“Kita hampir sampai. Ayo pegang tanganku.”

Setsuna dengan bersemangat menarik tubuhku yang lelah ketika kami mencapai titik istirahat di tengah gunung. Ketika kami hampir sampai, kakiku sudah gemetar.

“Ka-kamu nggak apa-apa? Apa kamu kecapean… Oh, kamu nggak terbiasa, ya? Ma-maafkan aku!”

Sebenarnya tidak ada alasan untuk minta maaf, tetapi karena kelelahan, aku kesulitan memberikan respons yang tepat. Pada akhirnya, aku hanya duduk di bangku untuk beristirahat.

Rasanya aneh. Meski suhu tidak begitu dingin dan kelelahan, ketika aku menyenderkan tubuhku, dan melihat ke langit malam, perasaan lelah itu mulai hilang.

“Indah, bukan? Kamu pasti lupa sama rasa lelahmu sekarang.”

Langit yang aku lihat hanya sedikit menyisakan warna biru tua, dan di dalamnya, bintang-bintang dengan berbagai ukuran, warna, dan kilauan masing-masing menghadirkan seni yang penuh dengan keunikan.

“Sebenarnya, aku pengen liat dari tempat yang lebih tinggi, tapi itu mungkin bakal jadi rencanaku suatu saat nanti. Dari sini juga nggak kalah indah, kan?”

Ternyata, aku sebenarnya ingin pergi lebih tinggi, dan hingga “waktu yang akan datang” itu tiba, aku ingin menjadi lebih terbiasa dengan mendaki gunung.

Ketika aku mendengarkan keluhan tubuhku seperti itu, tiba-tiba aku merasa penasaran.

“Eh? Kenapa ‘kamu’ yang aku pilih?”

Aku ingin tahu alasan dia memilihku daripada anggota klub lain. Aku pikir anggota lain seperti Ai, Emma, atau Shizuku mungkin akan lebih antusias dengan ide semacam ini.

“Yah, mungkin bakal lebih seru kalau kita semua dateng bareng-bareng.”

Setsuna menundukkan sedikit kepala. Itu karena dia membayangkan bagaimana jika dia datang bersama dengan orang lain selain aku.

“Kalau Ayumu yang datang, dia pasti seneng banget dan bakal terpesona oleh bintang-bintang, mungkin dia sampai terjatuh. Kasumi mungkin bakal cemburu sama bintang-bintang dan bilang, ‘Aku lebih bersinar, kok.’ Shizuku mungkin bakalan terlibat dalam cerita-cerita tentang bintang-bintang. Kak Karin mungkin bakalan bikin momen romantis ini lebih mendebarkan. Ai bakal buat lelucon tentang rasi bintang, sambil duduk bersila mungkin. Mungkin, Kak Kanata bakalan ketiduran meskipun ngeliat bintang kayak gini di malam hari. Kak Emma mungkin bakalan ngasih tahu kita tentang konstelasi dan cahaya bintang yang bisa diliat dari Swiss. Dan Rina, matanya akan bersinar sampai terang banget bahkan tembus lewat Rina-chan Board miliknya. “

Dengan siapa pun, pasti akan menyenangkan, dan itu adalah keyakinan di dalam klub ini. Ini juga merupakan bukti bahwa Setsuna sangat menyukai semua anggota klub.

“Yap! Aku mencintai semuanya! Nggak ada yang lebih menyenangkan daripada ini!”

Tetapi Setsuna memilihku, bukan anggota klub yang lain.

“Tentu saja, sebab bareng kamu semuanya juga terasa seru… Meskipun itu nggak kedengeran kayak sebuah alasan.”

Setelah itu, Setsuna bangkit dari bangku dan berdiri di depanku. Dia mengulurkan tangannya di depanku dengan latar belakang langit bintang yang berkilauan. Ketika aku menggenggam tangannya dan dia menarikku, bintang-bintang yang tadi terlihat, kini menghilang. Sekarang aku melihat Setsuna yang berdiri di depanku.

Mungkin aku tidak kehilangan Setsuna dalam kegelapan seperti ini karena aku memegang tangannya, atau mungkin karena keringat yang mengalir di jepit rambutnya memantulkan cahaya seperti kilatan yang mewakili dirinya sendiri.

“Aku menikmati banget waktu bersama ‘kamu’! Bangeeet! Aku beneran mencintaimu! Hati aku penuh dengan cinta ketika aku sama kamu!”

Setsuna mencari dunia yang penuh dengan cinta yang dia inginkan, dan itu akhirnya sedikit terwujud. Saat ini, di tempat ini, tidak ada keraguan.

“Aku mencintaimu!”

 

Kata-kata singkat dan sederhana dari dia yang memegang kedua tanganku yang sedikit berkeringat terdengar bergema berulang kali di bawah langit bintang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *