Ariake Garden, adalah tempat yang akhir-akhir ini sering aku datangi. Tempatnya dekat dengan tempatku menuntut ilmu sekarang, SMA Nijigasaki.

Jika harus aku jelaskan, tentu saja tempat ini sendiri sangat menarik, tapi alasan utamanya adalah karena di sini ada toko roti yang sangat enak. Tokonya lucu dan rotinya sudah tidak diragukan lagi kelezatannya. Jadi mau dimakan di tempat maupun dibawa pulang, jika ada waktu aku selalu menyempatkan diri untuk mampir di sini.

Walau tempatnya jauh dari asrama, aku tetap memilih untuk pergi ke sini jalan kaki. Selain sebagai olahraga, makan roti setelah berjalan-jalan terasa dua kali lipat lebih lezat.

“Maaf, apa kursi ini kosong?”

Tiba-tiba ada suara familiar yang memanggil. Ketika aku berbalik, aku hampir menjatuhkan roti yang aku pegang. Ternyata yang ada di sana adalah Kanata dan adiknya, Haruka.

Davvero! Kanata! Aku kaget rupanya kamu yang datang!”

“Hehe~ Aku melihat kamu sedang makan sendirian dari luar saat sedang kencang dengan Haruka~”

“Heh, Kakak…! Halo, Kak Emma. Aku tahu memang agak mengganggu, tapi Kakak memang suka mengejutkan orang lain….”

Setelah Kanata terlihat puas, Haruka melanjutkan.

“Wah, ciao! Haruka dan Kanata! Tumben sekali kita bertemu di tempat seperti ini!”

“Aku juga kaget melihatmu di sini. Kami pernah beberapa kali membahas soal toko yang lucu ini, tapi aku sendiri belum pernah masuk ke dalamnya.”

“Sungguh? Kebetulan sekali. Ini favoritku, rasanya sangat enak! Kalau kamu mau, cobalah sedikit!”

Sambil mengatakan itu, aku menawarkan mereka sedikit rotiku. Sebab, akan sangat disayangkan jika mereka tidak merasakan betapa lezatnya roti ini. Namun, tampaknya Kanata menolaknya. Dia menggelengkan kepala.

“Tidak usah, Emma. Aku tidak mau mengganggu kesenanganmu, apalagi setelah tadi mengejutkanmu. Bagaimana kalau kita datang berdua lain kali?”

Sambil senyum-senyum, Kanata berkata demikian. Sebelumnya, aku tidak pernah mengajak seseorang untuk datang ke sini, bahkan Karin. Jujur, aku ingin datang dengan seseorang, tapi jadwal kami selalu tidak cocok. Teman-teman di klub juga punya jadwalnya masing-masing, jadi aku tidak enak jika memaksa mereka untuk menemaniku.

“Sungguh? Tapi, Kanata, kamu pasti ingin menghabiskan waktu luangmu dengan Haruka, bukan? Apalagi, waktu yang kamu lalui dengan Haruka adalah waktu yang berharga….”

Kanata selalu bekerja keras lebih dari kami semua. Dia belajar, kerja paruh waktu, mengurus rumah, dan menjadi School Idol…. Di tengah semua itu, ada waktu yang sangat berharga dengan Haruka. Waktu berdua itu lebih penting daripada lezatnya roti ini. Aku tidak tega merampas kebahagiaannya dengan Haruka itu.

“Emma, waktu dengan Haruka memang berharga. Tapi bagiku, waktu yang aku habiskan denganmu juga sama berharganya, tahu? Aku ingin bicara lebih banyak denganmu.”

“Kak Emma, tenang saja. Jangan khawatirkan aku.”

Demikianlah, mereka memberikan kata-kata yang penuh kasih kepadaku. Aku sungguh beruntung. Sesuatu yang hangat mulai muncul dari dalam hatiku, membuatku sangat bahagia.

“Terima kasih, Kanata, Haruka! Janji, ya!”

“Hehe, iya, janji. Kayaknya aku juga sudah mulai lapar, nih.”

“Aku juga, Kak. Mumpung di sini, ayo kita makan. Aku juga mau beli sesuatu untuk Ibu.”

“Oke~ Emma, yang mana roti yang jadi rekomendasimu? Aku mau dengar pendapat pelanggan tetap toko ini, hehe.”

“Tentu, serahkan padaku! Semuanya enak, tapi yang paling enak――――”

 

Begitulah, pada akhirnya aku memilih roti bersama Kanata. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *